![]() |
| Suasana saat Masyarakat di Mojokerto Bermain Layang-Layang. |
Diksiana.com -
Layar digital telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan
sehari-hari. Sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat, perhatian dipenuhi
notifikasi, media sosial, pesan instan, dan arus informasi yang terus mengalir.
Kemudahan teknologi memang membawa banyak manfaat, tetapi juga memunculkan
fenomena digital fatigue atau kelelahan digital.
Kondisi ini bukan hanya ditandai oleh mata yang lelah, melainkan juga kejenuhan
mental, kelelahan emosional, sulit berkonsentrasi, hingga berkurangnya kualitas
interaksi sosial.
Di tengah situasi tersebut,
masyarakat Dusun Setoyo, Desa Talunblandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten
Mojokerto, masih mempertahankan tradisi bermain layang-layang setiap musim
kemarau. Tradisi sederhana ini ternyata menghadirkan ruang pemulihan psikologis
yang lahir secara alami dari kebersamaan masyarakat. Menjelang sore, hamparan
persawahan mulai dipenuhi warga. Anak-anak berlari membawa layang-layang, para
remaja sibuk merakit dan menerbangkannya, sementara orang dewasa datang setelah
menyelesaikan pekerjaan. Perangkat dusun, tokoh agama, para sesepuh, hingga
keluarga-keluarga ikut membaur menikmati suasana. Bahkan ketika akhir pekan
tiba, kegiatan ini sering berlangsung hingga larut malam. Sebelum musim
layang-layang dimulai, masyarakat juga mengadakan selametan sebagai ungkapan
syukur dan doa agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan membawa
keberkahan.
Keindahan tradisi ini semakin
terasa ketika malam tiba. Banyak layang-layang dihiasi lampu-lampu kecil yang
beragam sehingga tampak berkelap-kelip seperti bintang di langit. Suasana
menjadi semakin khas dengan hadirnya bunyi sowangan, suara
yang muncul ketika angin menerpa bagian tertentu dari layang-layang. Perpaduan
cahaya, angin malam, dan irama sowangan menciptakan pengalaman yang menenangkan
sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Nilai utama tradisi ini bukan
hanya terletak pada keindahan visualnya yang ditampakkan pada karya pecinta
layang-layang dalam menghiasnya, melainkan kebersamaan dan kepedulian di
dalamnya. Di sela-sela menerbangkan layang-layang, warga yang ikut memainkan
laying-layang dan yang hanya sekadar ikut menyaksikan duduk bersama di pematang
sawah, berbincang tanpa sekat usia. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga
para sesepuh saling bercengkerama. Bahkan saat menerbangkan layang-layang pun
dibutuhkan kerja sama agar layangan dapat menangkap angin dan terbang tinggi.
Dalam suasana santai tersebut, perangkat dusun dan tokoh masyarakat kerap
berbagi pengalaman hidup kepada generasi muda. Mereka menceritakan pentingnya
pendidikan, perjuangan bekerja, membangun keluarga, hingga cara menghadapi
berbagai persoalan kehidupan. Sebaliknya, anak-anak muda juga menyampaikan
kegelisahan mereka tentang pendidikan, pekerjaan, maupun persoalan pribadi.
Percakapan itu berkembang menjadi ruang saling mendengar, bertukar pikiran, dan
mencari solusi bersama tanpa kesan menggurui.
Dari perspektif konseling,
fenomena ini menunjukkan bahwa pemeliharaan kesehatan mental tidak selalu
berlangsung di ruang praktik yang tertutup. Lingkungan sosial yang hangat,
komunikasi yang terbuka, kesempatan untuk didengar, dan kehadiran orang-orang
yang bersedia berbagi pengalaman merupakan bentuk dukungan sosial (social support) yang sangat
berharga. Tradisi layang-layang di Dusun Setoyo memperlihatkan bagaimana
dukungan sosial tumbuh secara alami. Anak-anak belajar berinteraksi, remaja
memperoleh ruang berekspresi sekaligus mendapatkan arahan dari orang yang lebih
berpengalaman, orang dewasa mempererat hubungan sosial, sementara para sesepuh
menjadi sumber kebijaksanaan. Interaksi lintas generasi seperti ini semakin
langka di tengah kehidupan modern, padahal berbagai penelitian menunjukkan
bahwa dukungan sosial berperan penting dalam meningkatkan resiliensi, mengurangi stres, dan mencegah
kesepian.
Selain itu, tradisi ini juga
menghadirkan therapeutic
environment, yaitu lingkungan yang secara alami mendukung
pemulihan psikologis. Alam terbuka, aktivitas fisik, percakapan hangat, tawa
bersama, dan suasana tanpa tekanan menjadi kombinasi yang membantu seseorang
merasa lebih rileks dan kembali terhubung dengan orang lain. Ketika banyak
orang mencari cara melakukan digital detox melalui berbagai metode
modern, masyarakat Dusun Setoyo sesungguhnya telah mempraktikkannya sejak lama.
Mereka meninggalkan telepon genggam sejenak, berjalan di persawahan luas,
menikmati semilir angin, mendengarkan bunyi sowangan, memandang langit yang
dipenuhi layang-layang, serta menghabiskan waktu bersama keluarga dan tetangga.
Aktivitas sederhana ini menjadi jeda yang menenangkan dari hiruk-pikuk dunia
digital.
Tradisi layang-layang
mengajarkan bahwa pemulihan psikologis tidak selalu membutuhkan pendekatan yang
rumit. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah ruang untuk hadir sepenuhnya bersama
orang lain, berbicara, mendengarkan, dan menikmati alam tanpa gangguan layar
yang terus menarik perhat. Di tengah derasnya arus digitalisasi, tradisi
layang-layang di Dusun Setoyo membuktikan bahwa budaya lokal dan mainan
tradisional bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan juga modal sosial yang
mampu memperkuat hubungan antargenerasi, mempererat keluarga, membangun
solidaritas masyarakat, sekaligus menjaga kesehatan mental komunitas.
Inilah pelajaran penting yang dapat dipetik dari
langit Dusun Setoyo. Ketika banyak orang sibuk mencari sinyal internet yang
kuat dan terpukau pada isi layar digital, masyarakat setempat justru menemukan
ketenangan melalui hubungan antarmanusia yang hangat. Sebab saat orang kembali
berkumpul, berbincang, tertawa, dan menatap langit bersama, bukan hanya
layang-layang yang terbang tinggi, tetapi juga harapan, ketahanan, dan
kesehatan jiwa yang bisa tumbuh bersama.
