OPINI

Menatap Langit, Merawat Jiwa; Tradisi Layang-Layang Sebagai Penawar Digital Fatigue

 

Suasana saat Masyarakat di Mojokerto Bermain Layang-Layang.

Oleh : Unun Achmad Alimin - Dosen Bimbingan Konseling Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Diksiana.com - Layar digital telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat, perhatian dipenuhi notifikasi, media sosial, pesan instan, dan arus informasi yang terus mengalir. Kemudahan teknologi memang membawa banyak manfaat, tetapi juga memunculkan fenomena digital fatigue atau kelelahan digital. Kondisi ini bukan hanya ditandai oleh mata yang lelah, melainkan juga kejenuhan mental, kelelahan emosional, sulit berkonsentrasi, hingga berkurangnya kualitas interaksi sosial.

Di tengah situasi tersebut, masyarakat Dusun Setoyo, Desa Talunblandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, masih mempertahankan tradisi bermain layang-layang setiap musim kemarau. Tradisi sederhana ini ternyata menghadirkan ruang pemulihan psikologis yang lahir secara alami dari kebersamaan masyarakat. Menjelang sore, hamparan persawahan mulai dipenuhi warga. Anak-anak berlari membawa layang-layang, para remaja sibuk merakit dan menerbangkannya, sementara orang dewasa datang setelah menyelesaikan pekerjaan. Perangkat dusun, tokoh agama, para sesepuh, hingga keluarga-keluarga ikut membaur menikmati suasana. Bahkan ketika akhir pekan tiba, kegiatan ini sering berlangsung hingga larut malam. Sebelum musim layang-layang dimulai, masyarakat juga mengadakan selametan sebagai ungkapan syukur dan doa agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan membawa keberkahan.

Keindahan tradisi ini semakin terasa ketika malam tiba. Banyak layang-layang dihiasi lampu-lampu kecil yang beragam sehingga tampak berkelap-kelip seperti bintang di langit. Suasana menjadi semakin khas dengan hadirnya bunyi sowangan, suara yang muncul ketika angin menerpa bagian tertentu dari layang-layang. Perpaduan cahaya, angin malam, dan irama sowangan menciptakan pengalaman yang menenangkan sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Nilai utama tradisi ini bukan hanya terletak pada keindahan visualnya yang ditampakkan pada karya pecinta layang-layang dalam menghiasnya, melainkan kebersamaan dan kepedulian di dalamnya. Di sela-sela menerbangkan layang-layang, warga yang ikut memainkan laying-layang dan yang hanya sekadar ikut menyaksikan duduk bersama di pematang sawah, berbincang tanpa sekat usia. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga para sesepuh saling bercengkerama. Bahkan saat menerbangkan layang-layang pun dibutuhkan kerja sama agar layangan dapat menangkap angin dan terbang tinggi. Dalam suasana santai tersebut, perangkat dusun dan tokoh masyarakat kerap berbagi pengalaman hidup kepada generasi muda. Mereka menceritakan pentingnya pendidikan, perjuangan bekerja, membangun keluarga, hingga cara menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Sebaliknya, anak-anak muda juga menyampaikan kegelisahan mereka tentang pendidikan, pekerjaan, maupun persoalan pribadi. Percakapan itu berkembang menjadi ruang saling mendengar, bertukar pikiran, dan mencari solusi bersama tanpa kesan menggurui.

Dari perspektif konseling, fenomena ini menunjukkan bahwa pemeliharaan kesehatan mental tidak selalu berlangsung di ruang praktik yang tertutup. Lingkungan sosial yang hangat, komunikasi yang terbuka, kesempatan untuk didengar, dan kehadiran orang-orang yang bersedia berbagi pengalaman merupakan bentuk dukungan sosial (social support) yang sangat berharga. Tradisi layang-layang di Dusun Setoyo memperlihatkan bagaimana dukungan sosial tumbuh secara alami. Anak-anak belajar berinteraksi, remaja memperoleh ruang berekspresi sekaligus mendapatkan arahan dari orang yang lebih berpengalaman, orang dewasa mempererat hubungan sosial, sementara para sesepuh menjadi sumber kebijaksanaan. Interaksi lintas generasi seperti ini semakin langka di tengah kehidupan modern, padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial berperan penting dalam meningkatkan resiliensi, mengurangi stres, dan mencegah kesepian.

Selain itu, tradisi ini juga menghadirkan therapeutic environment, yaitu lingkungan yang secara alami mendukung pemulihan psikologis. Alam terbuka, aktivitas fisik, percakapan hangat, tawa bersama, dan suasana tanpa tekanan menjadi kombinasi yang membantu seseorang merasa lebih rileks dan kembali terhubung dengan orang lain. Ketika banyak orang mencari cara melakukan digital detox melalui berbagai metode modern, masyarakat Dusun Setoyo sesungguhnya telah mempraktikkannya sejak lama. Mereka meninggalkan telepon genggam sejenak, berjalan di persawahan luas, menikmati semilir angin, mendengarkan bunyi sowangan, memandang langit yang dipenuhi layang-layang, serta menghabiskan waktu bersama keluarga dan tetangga. Aktivitas sederhana ini menjadi jeda yang menenangkan dari hiruk-pikuk dunia digital.

Tradisi layang-layang mengajarkan bahwa pemulihan psikologis tidak selalu membutuhkan pendekatan yang rumit. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah ruang untuk hadir sepenuhnya bersama orang lain, berbicara, mendengarkan, dan menikmati alam tanpa gangguan layar yang terus menarik perhat. Di tengah derasnya arus digitalisasi, tradisi layang-layang di Dusun Setoyo membuktikan bahwa budaya lokal dan mainan tradisional bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan juga modal sosial yang mampu memperkuat hubungan antargenerasi, mempererat keluarga, membangun solidaritas masyarakat, sekaligus menjaga kesehatan mental komunitas.

Inilah pelajaran penting yang dapat dipetik dari langit Dusun Setoyo. Ketika banyak orang sibuk mencari sinyal internet yang kuat dan terpukau pada isi layar digital, masyarakat setempat justru menemukan ketenangan melalui hubungan antarmanusia yang hangat. Sebab saat orang kembali berkumpul, berbincang, tertawa, dan menatap langit bersama, bukan hanya layang-layang yang terbang tinggi, tetapi juga harapan, ketahanan, dan kesehatan jiwa yang bisa tumbuh bersama.