| Maulana Syarifudin, Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya |
Diksiana.com - Dalam suatu pertemuan di ruang kelas saya bertanya
pada mahasiswa, sejak kapan media terasa begitu melelahkan? Bukan karena kita kekurangan
informasi. Justru sebaliknya. terlalu banyak. Bahkan sebelum memulai aktifitas
di pagi hari kita selalu mengawali dengan membuka notifikasi yang tak pernah
benar-benar habis. Siang disergap tren yang silih berganti. Malam ditutup video
pendek yang katanya untuk relaksasi, tapi justru membuat kepala semakin penuh.
Tahun 2025 seperti menegaskan satu
kenyataan, jika media tidak lagi hadir sendiri. Ia datang serentak, di banyak
layar, dalam banyak rupa, entah produk Jurnalistik media massa atau konten
media sosial, Kita menyebutnya
komunikasi multiplatform. Dalam praktik keseharian, sering kali riuh dan
tergesa. Saya menyaksikan perubahan ini dari dua dunia yang berbeda. Hampir
sepuluh tahun turun ke lapangan sebagai jurnalis, lalu kini berdiri di ruang
kelas sebagai dosen Ilmu Komunikasi. Dulu, kami berlomba menuju lokasi kejadian
untuk bisa mendapatkan satu informasi, kemudian menyiarkannya pada publik. Namun
kini kita berlomba mencari informasi di lini masa yang bisa dengan mudah di repost
di media sosial. Dulu yang
dikejar adalah konfirmasi. Kini, kecepatan tayang.
Satu peristiwa hari ini bisa hadir serentak,
sebagai berita singkat di portal daring,
potongan video di TikTok, infografik di Instagram, opini cepat di X, lalu
klarifikasi panjang di YouTube. Semua bicara. Semua ingin didengar, semua ingin
lebih dulu muncul di layar. Pada titik ini, media bukan lagi soal siapa paling
tepat, melainkan siapa paling cepat terlihat.
Sebagai ex jurnalis, saya pernah belajar
bahwa satu berita tidak cukup ditulis dari satu sumber. Perlu waktu, perlu
verifikasi, perlu kehati-hatian. Namun dalam ekosistem multiplatform hari ini,
satu potongan video sering kali dianggap cukup mewakili keseluruhan cerita.
Algoritma mempercepat ilusi itu. Ia tidak bertanya apakah sebuah pesan mendidik
atau menyesatkan. Ia hanya menghitung, berapa lama ditonton, seberapa sering
diklik, sejauh apa dibagikan.
Sebagai dosen, saya melihat dampaknya di
ruang kelas. Mahasiswa jauh lebih fasih membaca insight media sosial
dibandingkan membaca berita secara utuh. Mereka paham kapan waktu terbaik
mengunggah konten, tetapi sering kesulitan menjelaskan dampak sosial dari pesan
yang mereka sebarkan. Ini bukan semata kesalahan mereka. Ini potret zaman yang
kita bangun bersama.
Komunikasi multiplatform sejatinya lahir
dari niat baik, menjangkau audiens yang
beragam. Namun di tahun 2025, ia juga menghadirkan paradoks. Pesan yang sama,
ketika dipadatkan, dipotong, dan disesuaikan dengan logika tiap platform, kerap
kehilangan konteks, sehingga yang tersisa hanyalah fragmen yang mudah
disalahpahami.
Karena itu, 2025 seharusnya menjadi tahun
refleksi, bukan sekadar adaptasi. Media boleh hadir di banyak platform, tetapi
nilai tidak boleh ikut berpindah-pindah. Etika tidak seharusnya ikut
dipendekkan seperti durasi video. Akurasi tidak layak dikorbankan demi
kecepatan.
Melalui Diksiana, refleksi semacam ini
penting dirawat. Media tidak selalu harus berteriak. Kadang cukup berbicara
pelan, tapi jujur. Tidak harus viral, tetapi bernilai. Tidak selalu cepat,
tetapi bertanggung jawab.
Pada
akhirnya, komunikasi bukan soal menguasai semua platform yang ada. Ia tentang
memilih kapan perlu bicara, kapan sebaiknya berhenti, dan kapan memberi ruang
bagi akal sehat untuk bekerja.
Tahun 2025 mengajarkan satu hal sederhana, kita
boleh hidup di banyak layar, tapi jangan sampai kehilangan arah pandang, Jika
media adalah cermin, semoga ia masih mampu memantulkan wajah kita apa adanya bukan
sekadar bayangan yang paling disukai algoritma.
*