Diskusi Akademis Forum Rumpun; Konflik Timur Tengah Bisa Timbulkan Trauma Jarak Jauh Bagi Publik

 

Forum Rumpun saat diskusi bahas Psikologi Publik dalam Memahami Konflik Timur Tengah

Surabaya – Konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah tidak hanya memunculkan dinamika geopolitik, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis masyarakat global. Fenomena tersebut menjadi sorotan dalam forum diskusi Rumpun, yang di gelar di salah satu Cafe Surabaya yang bertajuk “Psikologi Publik dalam Memahami Konflik Timur Tengah”.

Diskusi yang berlangsung dalam suasana santai namun akademis itu menghadirkan pemantik diskusi, Unun Achmad Alimin. Dalam pemaparannya, dosen Bimbingan Konseling Islam UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) tersebut menilai konflik internasional seperti yang terjadi di Timur Tengah memunculkan beragam respons psikologis di tengah masyarakat. “Ketika publik terus-menerus menerima informasi mengenai perang melalui media sosial maupun media massa, maka respons psikologis masyarakat akan terbentuk secara beragam. Ini yang kemudian memunculkan pola-pola psikologi publik,” ujar Unun dalam forum diskusi tersebut.

Pria asal Mojokerto itu menguraikan bahwa setidaknya terdapat empat kecenderungan psikologis yang muncul di masyarakat dalam merespons konflik global saat ini. Pertama adalah kelompok fanatik, yaitu kelompok masyarakat yang merespons konflik secara emosional dengan dukungan kuat terhadap salah satu pihak. “Kelompok fanatik biasanya melihat konflik dalam perspektif yang sangat hitam-putih. Dukungan terhadap satu pihak dilakukan secara total tanpa banyak mempertimbangkan kompleksitas konflik yang sebenarnya,” kata Unun.

Kedua, merupakan kelompok yang mengalami stres atau ketakutan. Kelompok ini merasakan kecemasan berlebihan karena paparan informasi konflik yang terus-menerus. “Sebagian publik mengalami kecemasan kolektif. Mereka khawatir konflik ini akan meluas, bahkan sampai memicu perang global,” ujarnya.

Sementara itu, kategori ketiga adalah kelompok apatis, yakni masyarakat yang memilih untuk tidak terlibat secara emosional dalam isu konflik internasional. “Kelompok ini cenderung merasa konflik tersebut jauh dari kehidupan mereka, sehingga memilih untuk tidak mengikuti perkembangan isu secara mendalam,” jelasnya.

Sedangkan kelompok terakhir adalah kelompok empatis, yaitu masyarakat yang merespons konflik dengan rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap korban perang. “Kelompok empatis biasanya menunjukkan solidaritas kemanusiaan, baik melalui diskusi, advokasi, maupun aksi sosial yang mendukung perdamaian,” tambahnya.

Diskusi yang dihadiri akademisi dari berbagai disiplin ilmu tersebut berlangsung dinamis. Para peserta yang berasal dari berbagai bidang keilmuan ini diantaranya ekonomi, hubungan internasional, hingga ilmu komunikasi turut memberikan perspektif berbeda terkait eskalasi konflik di Timur Tengah.

Sejumlah akademisi menilai bahwa konflik di kawasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ideologi atau politik, tetapi juga berkaitan erat dengan kepentingan ekonomi global. Dalam forum diskusi itu pula muncul pandangan menarik mengenai kemungkinan terjadinya perang dunia ketiga. Beberapa akademisi menilai skenario tersebut relatif kecil kemungkinannya terjadi dalam konteks geopolitik saat ini. “Kalau melihat konfigurasi kepemimpinan global hari ini, banyak pemimpin dunia yang berasal dari latar belakang bisnis. Dalam logika bisnis, perang berskala global justru akan merugikan stabilitas ekonomi,” ungkap Bima Rafly.

Dalam penutup diskusi, Unun Achmad Alimin menekankan pentingnya kedewasaan psikologis publik dalam menyikapi konflik global seperti yang terjadi di Timur Tengah. Menurutnya, derasnya arus informasi di era digital membuat masyarakat sangat mudah terpengaruh oleh narasi yang emosional, provokatif, bahkan manipulatif.

Ia menilai kondisi tersebut berpotensi memperkuat polarisasi opini di ruang publik apabila masyarakat tidak memiliki kesiapan psikologis dalam mengelola informasi konflik. “Dalam perspektif konseling, masyarakat perlu memiliki kemampuan regulasi emosi dan literasi informasi. Konflik internasional memang menyentuh sisi kemanusiaan kita, tetapi respons publik tetap harus proporsional, rasional, dan tidak terjebak pada fanatisme,” ujar Unun.

Menurutnya, masyarakat idealnya bergerak menuju pola psikologi empatik-kritis, yakni sikap yang tetap menunjukkan solidaritas kemanusiaan terhadap korban konflik, namun tetap berpijak pada analisis yang jernih dan tidak mudah terseret narasi propaganda.

Ia juga menegaskan bahwa konflik global yang disaksikan melalui media saat ini sebenarnya membentuk apa yang disebut sebagai “trauma jarak jauh” atau distant trauma, yakni kondisi psikologis ketika masyarakat merasakan kecemasan atau kemarahan terhadap peristiwa yang secara geografis jauh dari kehidupan mereka. “Paparan informasi konflik yang terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan psikologis publik. Karena itu, masyarakat perlu belajar menyeimbangkan empati kemanusiaan dengan kemampuan menjaga kesehatan mental dan kejernihan berpikir,” katanya.

Unun berharap diskusi akademik lintas disiplin seperti ini dapat menjadi ruang refleksi publik agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi konflik, tetapi juga mampu memahaminya secara lebih bijak. “Pada akhirnya, kedewasaan psikologis publik adalah kunci. Empati tetap penting, tetapi harus dibarengi dengan rasionalitas dan literasi media agar masyarakat tidak mudah terseret arus emosi kolektif,” tutupnya. *(Min)