Merayakan Lebaran di Pesisir Trenggalek




Oleh:  Maulana Syarifudin

Lebaran di pesisir Trenggalek, terasa berbeda. Lebih “niat”. Bukan sekadar hari raya. Tapi seperti sebuah peristiwa yang disiapkan dengan kesadaran penuh. Bahkan, tanda-tandanya sudah terlihat jauh sebelum takbir pertama dikumandangkan. Dua hari sebelumnya, kampung ini sudah mulai berubah wajah. Jalan-jalan kecil yang biasanya sepi mendadak hidup. Gapura dan pintu masuk gang dihias janur kuning. Tidak asal pasang. Ada makna yang ditanamkan.

Janur kuning, bagi masyarakat Jawa, bukan sekadar dekorasi. Ia adalah simbol harapan akan kesucian. Harapan untuk kembali bersih setelah sebulan berpuasa. Harapan untuk memulai hidup baru yang lebih tertata. Menariknya, simbol ini justru identik dengan pernikahan. Seolah-olah Lebaran dipahami sebagai momentum “akad” ulang manusia dengan Tuhannya—untuk kembali pada fitrah.

Di bawah janur itu, berdiri pohon pisang lengkap dengan buahnya. Diletakkan di depan rumah atau gapura. Terlihat sederhana, tapi filosofinya dalam. Pisang melambangkan keikhlasan dan pengorbanan. Ia tumbuh, berbuah, lalu mati setelah memberi manfaat. Buahnya yang lebat menjadi simbol kelimpahan, kesuburan, dan keberuntungan. Tidak banyak kata diucapkan, tapi simbol-simbol ini sudah cukup menjelaskan bagaimana masyarakat memaknai hidup.

Di sepanjang jalan, puluhan umbul-umbul berdiri tegak di kanan kiri. Warnanya beragam. Tulisan-tulisannya juga macam-macam. Sekilas, suasananya seperti menuju sebuah festival atau konser rakyat. Tapi ini bukan acara hiburan. Ini Lebaran. Ada semangat kolektif yang terasa, sesuatu yang di kota mulai jarang ditemukan.

Malam takbiran menjadi puncak suasana. Takbir berkumandang semalam suntuk. Dari masjid ke musholla, saling menyahut tanpa jeda. Tidak terasa bising. Justru menenangkan. Seperti ada yang menjaga malam itu tetap hidup, meski sebagian orang sudah terlelap. Takbir menjadi penjaga kesadaran: bahwa esok bukan hari biasa.

Pagi harinya, salat Id dimulai pukul 06.15 WIB. Sama seperti di banyak tempat. Jamaah datang dengan pakaian terbaiknya. Wajah-wajah terlihat segar, meski malam sebelumnya tidak benar-benar panjang untuk tidur. Salat berlangsung khusyuk, diikuti khutbah yang mengingatkan kembali makna kemenangan: bukan soal merayakan, tapi soal menahan diri yang berhasil dilewati.

Namun, yang membuat berbeda justru setelah salat selesai.

Tidak ada yang langsung pulang.

Jamaah justru berdiri berjejer dengan tertib. Lalu dimulailah tradisi bersalaman. Satu per satu. Semua orang. Tanpa kecuali. Mereka saling menyapa, saling memaafkan, memutar hingga semua benar-benar saling bersentuhan tangan. Tidak ada yang dilewatkan.

Proses ini memakan waktu. Tapi tidak ada yang merasa terburu-buru. Tidak ada yang melihat jam. Semua larut dalam momen. Di sini, kebersamaan tidak dipersingkat.

Bandingkan dengan suasana di kota. Setelah salat Id, sebagian besar orang segera pulang. Bersalaman hanya dengan yang sempat dijangkau. Sisanya ditunda—atau bahkan tidak terjadi. Ada kesibukan lain yang menunggu. Ada agenda pribadi yang lebih mendesak.

Di Karangongso, waktu seolah melambat.

Setelah semua selesai bersalaman, jamaah tidak bubar. Mereka kembali duduk. Menggelar tahlil bersama. Mendoakan para leluhur, orang tua, dan mereka yang telah lebih dulu pergi. Nama-nama yang mungkin jarang disebut dalam keseharian, pagi itu dihadirkan kembali. Ada hubungan yang dijaga, antara yang hidup dan yang sudah tiada.

Lebaran di sini bukan hanya tentang yang hadir, tapi juga tentang yang pernah ada.

Lalu, masuk ke bagian yang paling sederhana—tapi justru paling hangat: makan bersama.

Menunya sama. Tidak dibuat berbeda. Ayam lodho dan nasi gureh. Semua orang membawa, lalu saling menukar. Tidak penting siapa membawa apa. Tidak ada kebanggaan soal variasi. Justru keseragaman itu yang menciptakan rasa kebersamaan.

Di kota, Lebaran sering menjadi ajang menunjukkan keberagaman menu. Semakin banyak, semakin dianggap meriah. Di sini, justru kesederhanaan yang dipilih. Dan dari situlah kehangatan muncul.

Saya merasa, Lebaran di pesisir seperti ini lebih jujur.

Tidak banyak formalitas yang kehilangan makna. Tidak banyak simbol yang sekadar menjadi pajangan. Semua masih dijalani dengan kesadaran kolektif. Pelan, tapi penuh arti.

Lebaran bukan hanya dirayakan.

Tapi benar-benar dijalani.