Oleh : Maulana Syarifudin
Mojokerto - Penuh, sesak riuh tersaji didalam bus baik antar kota serta bus antar provinsi h-1 jelang lebaran. Meski saat catatan ini ditulis pemerintah belum resmi menetapkan hari raya idul fitri karena belum menggelar sidang isbat.
Jarak dari rumah jalur nasional surabaya - Jombang hanya sekitar 3 km. Namun durasi menunggu untuk mendapatkan bus agar bisa ditumpangi rasanya lebih lama dibanding durasi perjalanan dari rumah ke jalur nasional. Seperti biasa sebagai penumpang yang naik tidak dari terminal harus selalu mengaktifkan kesiapsiagaan, antisipasi jika bus tiba tiba mendekat. Selain harus cepat mengangkat barang dan naik bus, juga harus benar benar memanfaatkan lambaian tangan untuk bisa membuat bus berhenti.
Namun berharap mudik di hari raya nyepi suasana bus menjadi sepi namun prediksi itu nyatanya keliru. Justru hampir ada 4 bis yang menolak untuk berhenti karena penumpang yang terlalu penuh sesak. Naik transportasi umum terutama bus, memang kita harus rela dan ikhlas untuk saling berdesak desakan satu sama lain, namun jika beruntung saat penumpang sepi justru memang lebih nyaman dibanding membawa kendaraan sendiri.
Kembali lagi, beruntung bus kelima mau berhenti, dengan bergegas segera berlari menuju bus, meski belum benar benar berhenti namun pintu belakang bus sudah dibuka oleh kernetnya, lengkap dengan suara khas kernernya, yoo ayoo ayoo...,
Kaki baru naik satu namun bus sudah jalan, benar benar seperti film action yang menganggap semua penumpang artis laga dalam film jackie chan.
Suasana sesak langsung terpampang jelas didalam bus, dua tas paper bag yang saya tenteng pun sulit rasanya untuk bermanuver, jangankan begitu sekadar menggerakkan kaki menjadi sebuah kemewahan, karena resikonya jika tidak menginjak kaki orang ya dinjak kaki orang, bahkan kaki satu sama lain pun saling mengunci. Saya yakin meskipun saling diam para penumpang ini diselimuti dengan berbagai perasaan menggerutu.
Namun bagaimana lagi bagi pejuang silaturahim bersesak sesak menjadi pilihan terbaik dibanding tak menikmati lebaran bersama keluarga di kampung halaman.
Naik transportasi publik tentu kita disuguhkan dengan berbagai realitas sosial, berbagai latar belakang orang, apalagi jika naik bus ekonomi tentu akan banyak lalu lalang pengamen pengemis dengan berbagai kreatifitasnya untuk mencari rezeki.
Diantaranya yang saya temui di bus yang saya tumpangi dari Mojokerto menuju Kediri, seorang pengamen yang membawa anak kecil dengan sigap juga ikut mengatur komposisi dan ruang gerak para penumpang, rasanya aksi itu bukan karena untuk memudahkan pergerakannya saja saat berlalu lalang meminta imbalan dari penumpang atas lagu yang sudah dinyayikan. Namun apa yang dilakukannya rasanya juga bagian dari rasa terima kasihnya pada sopir dan kondektur bus karena sudah diijinkan mengamen. Perempuan paruh baya itu bahkan tak segan memarahi penumpang yang tak mau memberikan kursi kosong disebelahnya untuk penumpang lain. Tak jarang juga menggerutu "lapo mang munggah nek wes kepingin mudun" lantaran para penumpang yang sedang berdiri yang tak mau bergeser lebih ke tengah,sebuah sindiran halus bagi para penumpang yang tidak mau beranjak dari dekat pintu.
Tentu celetukan spontan dari pengamen itu membuat saya berfikir jika selucu ini kehidupan, karena tentu semua yang naik bus bukan sedang menikmati wahana permainan namun melakukan perjalanan dengan tujuan masing masing terutama bagi para pejuang silaturahim menjelang lebaran.*(min)
